BOLEH KAMI NUMPANG SHALAT DISINI…?

SAya ambil dari ramdani.wordpress.com

 

Terkadang untuk menyampaikan sebuah kebenaran tidak perlu ceramah dan retorika. Tutur kata yang santun & perilaku mengesankan dapat membuat seseorang simpati lalu jatuh hati. Berikut ini salah satu pengalaman seorang saudara kita.

Ubaid adalah seorang pegawai. Belasan tahun sudah ia
bekerja di sebuah bank swasta. Orangnya jujur, rajin
dan taat beribadah. Agama baginya bukan hanya di

masjid dan dinikmati sendiri. Namun agama menurutnya
adalah dakwah, berbagi dengan sesama sehingga nilai
dan sinarnya dapat dirasakan oleh orang lain.

Ubaid beruntung karena mendapatkan fasilitas KPR dari

kantornya. Dua minggu sudah ia mencari-cari rumah yang
sesuai dengan plafond kantor dan sesuai pula dengan
keinginannya. Allah Swt menunjukkan rumah yang sesuai
untuknya di sebuah bilangan di Ciputat – Tangerang,

Cirendeu tepatnya.

Ubaid menceritakan kepada istrinya rumah yang baru
saja dilihat. Sore itu Ubaid berjanji untuk mengajak
istrinya untuk melihatnya sekaligus meminta
persetujuan atas rumah yang dimaksud.

Setengah enam sore, Ubaid & istri berangkat dari rumah
menuju Cirendeu. Baru separuh jalan, terdengarlah
kumandang adzan Maghrib. Mendengarnya, Ubaid berujar
kepada istrinya , “Shalat Maghrib kita numpang saja ya

di rumah yang mau kita lihat..!” Istrinya pun
mengiyakan usul Ubaid.

Ubaid & istri sampai di rumah itu. Pemilik rumah
menyambut mereka dengan seulas senyum. Mereka
dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dalam

pembicaraan yg mereka lakukan, Ubaid & istri
mengetahui bahwa ibu pemilik rumah adalah seorang
janda usia 50 tahun lebih beranak dua.

“Berapa bu rumah ini mau dijual?” tanya istri Ubaid
kepada pemilik rumah. “Saya mau lepas dengan harga 300

juta” sahut pemilik rumah.
“Gak boleh kurang?” tandas istri Ubaid.
“Itu juga sudah murah… Kemarin ada yang tawar 260
juta saya gak kasih” jawab pemilik rumah.
Mendengarnya Ubaid & istri menjadi paham harga yang

diinginkan pemilik rumah, namun plafond dari kantor
untuk Ubaid hanya Rp 250 juta. Ubaid & istri saling
berpandangan. Budget mereka tidak sesuai dengan harga
rumah yg diinginkan.

***

Ubaid melirik jam di pergelangan tangannya. Masya

Allah…! Waktu Isya sebentar lagi tiba, padahal Ubaid
& istri belum shalat Maghrib…
Ubaid lalu berkata kepada pemilik rumah, “Ibu, boleh
kami numpang shalat di sini?”
Mendengar kalimat itu rona wajah pemilik rumah berubah

drastis. Tampak kebingungan & sedikit tegang. Ubaid
merasakan hal itu, ia pun meralat kalimatnya, “Kalo
gak boleh shalat di sini, masjid yang terdekat dimana
ya…?”
Kalimat ini pun menambah kekikukan bagi pemilik rumah,

dan ia pun menyergah “Masjid jauh dari sini!!!”
Ubaid pun menjadi bingung atas sikap & jawaban dari
pemilik rumah. Dalam hati ia menduga kalau-kalau
pemilik rumah bukan seorang muslimah. Namun Ubaid &

istrinya harus segera shalat Maghrib, ia pun berujar,
“Kalo gak boleh shalat di dalam rumah, bolehkah kami
shalat di teras?”
Merasa terdesak, pemilik rumah akhirnya mengizinkan.
Maka jadilah Ubaid & istrinya shalat Maghrib di teras

rumah. Tanpa alas apapun sebagai sejadah mereka.

***

Usai shalat, Ubaid dan istri melanjutkan pembicaraan
dengan pemilik rumah. Tidak berlangsung lama, mereka
pun berpamitan. Sayang malam itu tidak ada angka yang

disetujui oleh mereka, baik oleh Ubaid dan istri
ataupun dari pemilik rumah. Masing-masing bertahan
dengan harga dan uang yang mereka mau.

“Malam itu akhirnya gak ada angka yang pas buat kita,
beliau maunya 300 juta, padahal saya hanya boleh

ngambil KPR maksimal Rp250 juta” demikian Ubaid
bercerita kepada saya.
“Namun pak, aneh sungguh aneh luar biasa…. keesokan
paginya, ibu pemilik rumah menelpon ke hp saya!” Ubaid
melanjutkan ceritanya. Kalimat terakhir yang ia

ucapkan membuat saya bertanya ada apa gerangan.

Ubaid bercerita bahwa pemilik rumah itu bertanya lewat
pembicaraan telpon pagi-pagi sekali, “Pak Ubaid, saya
nelpon cuma mau tanya, apakah setiap rumah yang hendak

bapak beli harus disembahyangin dulu…?!”
Saat Ubaid sampaikan kalimat itu, dahi saya berkernyit
dan membuat saya berujar, “Maksudnya apa?”
“Itu dia pak…, saya pun menanyakan hal yang sama

kepada ibu itu?!” sahut Ubaid. Lalu Ubaid menceritakan
bahwa ibu pemilik rumah itu menanyakan kepadanya
apakah setiap rumah yang mau dibeli harus dishalatin
dulu?
“Saya bilang sama ibu tadi bahwa saat itu kami berdua

belum shalat Maghrib padahal waktu Isya sudah hampir
masuk… jadi apa yang kami lakukan adalah sebuah
kewajiban bukannya untuk menentukan rumah itu cocok
atau tidak…!” Ubaid menjelaskan kalimat yang ia

sampaikan kepada ibu pemilik rumah.
“Tapi pak…, ibu itu berkata bahwa entah kenapa usai
saya & istri pulang ia merasa cocok dan menjadi tenang
hatinya, makanya pagi itu beliau menelpon ke hp saya”

Ubaid menambahkan.

Lebih panjang Ubaid bercerita kepada saya bahwa ibu
itu mengaku sudah hampir 30 tahun tidak pernah shalat
sejak ia ditinggal oleh suaminya dan harus membesarkan
kedua anaknya. Hidupnya panik dan sulit. Ia harus

bekerja dan mencari nafkah. Duit dan duit yang ada
dalam kepalanya, dia lupa sama sekali untuk menyembah
Allah.

“Sekarang, ibu itu tidak kurang 3 kali dalam seminggu
pasti menelpon atau berkunjung ke rumah. Dia mau

belajar menjadi muslimah lagi katanya” Ubaid
menjelaskan kepada saya.
Rumah itu sudah kami beli darinya. Harganya pun amat
menakjubkan. ..! Jauh dari dugaan kami semula… Kami
membelinya dengan harga Rp 220 juta saja!!!” tambah

Ubaid. Saya takjub mendengarnya.
“Lebih hebatnya lagi…, sampai sekarang rumah itu
baru separuh kami bayar. Bukan karena keinginan kami,
tapi keinginan ibu itu!!!” tegas Ubaid. Saya langsung
bertanya keheranan , “Kok bisa begitu…?”

“Dia bilang bayar saja sisanya kalau saya sudah merasa
puas belajar ibadah kepada pak Ubaid dan keluarga…! “
Ubaid menutup kalimatnya sambil tersenyum.

***
Subhanallah. … kisah itu begitu berarti bagi kita yang mendengarnya. Terkadang bila ibadah sudah mewujud
dalam akhlak seseorang, maka simpati dari sesama akan terbit dan menyinari kehidupan yang kita jalani.
Bukan berniat bahwa dengan beribadah maka akan timbul simpati dari orang lain, atau ibadah itu untuk mencari rezeki, namun yakinlah bahwa dengan ibadah Allah akan memudahkan semua urusan, rezeki akan mengalir dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Dan ternyata, semuanya menjadi makin indah dengan ibadah!!!

Satu Tanggapan

  1. nice site…
    keep post ya….
    kapan2 mampir jg ke http://www.coysclub.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: